Harta, Membutuhkannya Namun Tak Perlu Mencintainya

Saat membuka inbox email pagi ini, ada satu pesan yang berisi daftar berita dari health.detik.com. Berita teratas berjudul, “Dikibas Duit, Pria Ini Bangun dari Koma Selama Setahun Lebih”. Mungkin Anda pun pernah membaca berita tersebut. Sempat tertawa kecil, seusai menyelesaikan paragraf terakhir.

harta karun

Salah satu wujud harta yakni uang atau duit atau ‘pitih’, begitulah orang Minang biasa menyebutnya. Sering kali, harta menguasai pikiran manusia. Seperti Xiao Li, seorang pria di dalam berita tersebut yang sebagian besar memorinya telah dipenuhi oleh uang. Memori akan aroma dan suara tertentu seringkali dapat dijadikan stimulan atau perangsang sangat kuat, terutama bagi pasien yang terjebak dalam kondisi koma. Dokter yang menangani Xiao Li, akhirnya menggunakan metode tersebut untuk membantu Xiao Li bangun dari komanya selama setahun lebih.

Manusia waras mana yang tidak butuh harta sama sekali??? Tidak dipungkiri bahwa kita butuh harta, namun apakah harta perlu dicintai? Sikapilah harta seperti kita membuang kotoran rutin setiap hari, ‘Membutuhkannya namun tak perlu mencintainya‘.

“Pasti gara-gara harta”, jika harta dituding sebagai biang masalah, tentunya hal tersebut kurang tepat. Semua kembali pada diri kita masing-masing, bagaimana kita menyikapi harta dan bagaimana mempergunakannya?

 

Pernahkah Anda melihat seseorang yang memperjuangkan harta hingga lupa kewajibannya dalam agama?

Pernahkah Anda mengetahui dua orang yang berkawan saling bergelut karena uang sebesar Rp 100?

Pernahkah Anda mengetahui seseorang membunuh kawannya karena masalah uang? Pernahkah Anda melihat dua orang yang bersahabat saling menjelekan atau menggunjingi karena masalah uang?

Pernahkah Anda melihat seseorang yang melihat saudaranya bagaikan orang asing, karena menilai saudaranya  berdasarkan hartanya?

Saya pribadi akan menjawab “Pernah”. Para koruptor dan kisah Malin Kundang, merupakan sebagian kecil contoh cucu-cucu Adam yang salah menyikapi harta.

 

Memegang harta, seperti kita sedang memegang pisau yang sangat tajam, apabila Anda mencintainya, maka percayalah bahwa Anda sedang mengalami gangguan kejiwaan.

Dan bila Anda salah menggunakannya, maka percayalah bahwa hidup Anda akan di kunjungi banyak masalah, bukan hanya masalah saat hidup di dunia, namun masalah besar juga akan menerkam Anda di akhirat.

 

Saat salah dalam menyikapi dan menggunakan harta, kawan bisa menjadi lawan, persahabatan bisa lekang, saudara bisa menjadi orang asing. orang tua sendiri pun diabaikan dan Tuhan pun tergantikan oleh harta .

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s